Fitrilebeks's Blog

Jenis-jenis Hama Dan Penyakit Yang Menyerang Tanaman Kehutanan

Posted on: June 9, 2009


  1. Hama Hutan
    1. Ciri-Ciri Pohon
      1. Jati (Tectona grandis)

        Tinggi 30 – 45 m. Batang bebas cabang 15 – 20 cm. Diameter batang 220 cm. Kulit kayu kasar, berwarna kecoklatan atau abu-abu yang mudah terkelupas. Percabangan jauh dari batang utama. Pangkal batang berakar papan pendek. Tata daun berbentuk opposite dengan bentuk daun besar membulat seperti jantung, berukuran panjang 20-50 cm dan tebal 15-40 cm. Ujung daun meruncing, pangkal daun tumpul dan tepi daun bergelombang. Permukaan atas daun kasar sedangkan permukaan bawah daun berbulu. Pertulangan daun menyirip. Tangkai daun pendek dan mudah patah serta tidak memiliki daun penumpu (Stipule). Tajuk tidak beraturan. Daun muda (Petiola) berwarna hijau kecoklatn, sedangkan daun tua berwarna hijau tua keabu abuan.

      2. Damar (Agathis damara)

        Pohon termasuk famili Araucariaceae. Tinggi pohon 20-60 m. rantingnya bulat, pada ujung menjadi pipih, kuncup ujung tidaklancip, daun dapat dikatakan berhadapan, helai daun demi sedikit menjadi tangkai daun yang pendek, bentuk lancet, 6-12 kali 1,5-4 cm, berurat rapat, membujur tipis. Daerah persebaran diMaluku dan Jawa, di tanam 200-1.000 m. hars daribanyakjenis Agathis bernilai tinggi, yang dinamakn copal, yang dapat di,, tap”. Kayunya cock untuk pembuatan kertas dan tripleks.

      3. Durian ( Durio zibethinus )
  • Tinggi pohon 10 m. mempunyai dahan yang banyak dan rendah. Daun durian berkilat di sebelah atas dan berwarna hijau kekuningan di sebelah bawah.
  • Berbunga sepanjang tahun. Bunganya berwarna hijau kekuningan dan bersifat hermaprodit. Baunya kuat dan panjangnya antara 0.1–2.5 sm dan bertangkai pendek. Mempunyai sepal berwarna hijau tua yang berukuran lebar 0.3–0.5 sm dan berbulu halus. Bilangan petalnya ialah 6 dan tersusun dalam dua lapisan. Petal pada lapisan luar adalah lebih besar, tebal, hijau dan bertukar ke warna kuning pucat. Panjang garisnya antara 2–4 sm. Petal dalamnya berselang dengan petal luar dan lebih kecil antara 1.5–3.5 sm.
  • Buah duria berwarna hijau tua dan panjangnya antara 10–30 sm dan lebar 10–15 sm. Berbentuk jantung kerana bersaiz lebar di bahagian tangkai dan menjadi tirus di bahagian hujung. Ia mempunyai kulit yang nipis dan berduri pendek iaitu 0.3–0.5 sm, lembut dan bengkok sedikit.
  1. Pinus (Pinus merkusii)

    Menurut Cordes (1867), sifat-sifat morfologi P. merkusii strain Kerinci adalah: berbatang lurus, percabangan sangat tinggi, daun jarum sebanyak dua buah (hampir sama dengan jenis Pinus sylvestris), daun licin dan bagian dalamnya agak cekung dan kasar. bentuk batang umumnya lebih lurus dan lebih silindris, kulit batang umumnya lebih tipis (1 cm) dengan warna lebih terang (putih keabu-abuan) dan alur yang lebih dangkal, sedangkan daunnya relatif lebih jarang, dan diduga kerentanan terhadap kebakaran lebih rentan karena kulitnya yang lebih tipis

  2. Mahoni (Swietenia mahagoni)

    Pohon selalu hijau dengan tinggi antara 30-35 cm. Kulit berwarna abu-abu dan halus ketika masih muda, berubah menjadi coklat tua, menggelembung dan mengelupas setelah tua. Daun bertandan dan menyirip yang panjangnya berkisar 35-50 cm, tersusun bergantian, halus berpasangan, 4-6 pasang tiap-daun, panjangnya berkisar 9 -18 cm. Bunga kecil berwarna putih,panjang 10 – 20 cm, malai bercabang.

  3. Sengon (Paraserianthes falctaria)

    Divisi     : Spermatophyta

    Sub divisi     : Angiospermae

    Kelas    : Dicotyledonae

    Bangsa     : Fabales

    Famili     : Fabaceae

    Sub Famili    : Mimosoidae

    Marga     : Paraserianthes

    Jenis    : Paraserianthes falcataria

Kayu teras berwarna hampir putih atau coklat muda pucat (seperti daging) warna kayu gubal umumnya tidak berbeda dengan kayu teras. Teksturnya agak kasar dan merata dengan arah serat lurus, bergelombang lebar atau berpadu. Permukaan kayu agak licin atau licin dan agak mengkilap.Kayu yang masih segar berbau petai, tetapi bau tersebut lambat laun hilang jika kayunya menjadi kering.

Sifat kayu : Kayu sengon termasuk kelas awet IV/V dan kelas IV-V dengan berat jenis 0,33 (0,24-0,49). Kayunya lunak dan mempunyai nilai penyusutan dalam arah radial dan tangensial berturut-turut 2,5 persen dan 5,2 persen (basah sampai kering tanur). Kayunya mudah digergaji, tetapi tidak semudah kayu meranti merah dan dapat dikeringkan dengan cepat tanpa cacat yang berarti. Cacat pengeringan yang lazim adalah kayunya melengkung atau memilin.

  1. Eucaliptus (Eucalyptus spp)

    Eucalyptus spp. termasuk famili Myrtaceae, terdiri dari kurang lebih 700 jenis. Jenis Eucalyptus dapat berupa semak atau perdu sampai mencapai ketinggian 100 meter umumnya berbatang bulat, lurus, tidak berbanir dan sedikit bercabang. Pohon pada umumnya bertajuk sedikit ramping, ringan dan banyak meloloskan sinar matahari. Percabangannya lebih banyak membuat sudut ke atas, jarang-jarang dan daunnya tidak begitu lebat. Daunnya berbentuk lanset hingga bulat telur memanjang dan bagian ujungnya runcing membentuk kait. Pada pohon yang masih muda letak daunnya berhadapan bentuk dan ukurannya sering berbeda dan lebih besar daripada pohon tua. Pada umur tua, letak daun berselang-seling.

    Ciri khas lainnya adalah sebagian atau seluruh kulitnya mengelupas dengan bentuk kulit bermacam-macam mulai dari kasar dan berserabut, halus bersisik, tebal bergaris-garis atau berlekuk-lekuk. Warna kulit mulai dari putih kelabu, abu-abu muda, hijau kelabu sampai coklat, merah, sawo matang sampai coklat.

  2. Meranti (shorea spp)

    Pohon dapat mencapai tinggi 60 m, bebas cabang 35 m, diameter 1 m. Banir menonjol tetapi tidak terlalu besar. Tajuk lebar, berbentuk payung dengan ciri berwarna coklat kekuning-kuningan. K ulit coklat keabu-abuan, alur dangkal, kayu gubal pucat, dan kayu teras merah tua. Daun lonjong sampai bulat telur, panjang 8 -14 cm, lebar 3,5-4,5 cm. Permukaan daun bagian bawah bersisik seperti krim, tangkai utama urat daun dikelilingi domatia terutama pada pohon muda, sedang urat daun tersier rapat seperti tangga. Bunga kecil dengan mahkota kuning pucat, helai mahkota sempit dan melengkung ke dalam seperti tangan menggenggam. Deskripsi buah dan benih. Buah seperti kacang yang terbungkus kelopak bunga yang membesar. Kelopak ini berbulu jarang dengan 3 cuping memanjang sampai 10 cm dan melebar 2 cm berbentuk sendok, 2 cuping lainnya berukuran panjang 5,5 cm dan lebar 0,3 cm. Panjang benih 2 cm, diameter 1,3 cm, bulat telur, berbulu halus dan lancip dibagian ujungnya. Unit penaburan dan pengujian adalah buah dimana bagian bawah kelopak disisakan setelah sayap dipotong. 1 kg terdapat 1300-2100 butir benih tanpa sayap.

  1. Gejala atau Tanda-tanda Serangan
    1. Jati (Tectona grandis ).

      Hama Kutu Putih (Pseudococcus/mealybug)

      Kutu putih/kutu sisik (famili Coccidae, ordo Homoptera) yang pernah dilaporkan menyerang tanaman jati antara lain : Pseudococcus hispidus dan Pseudococcus (crotonis) tayabanus.

      Kutu ini mengisap cairan tanaman tumbuhan inang. Waktu serangan terjadi pada musim kering (kemarau). Seluruh tubuhnya dilindungi oleh lilin/tawas dan dikelilingi dengan karangan benang-benang tawas berwarna putih; pada bagian belakang didapati benang-benang tawas yang lebih panjang. Telur-telurnya diletakkan menumpuk yang tertutup oleh tawas.

      Kerusakan pada tanaman jati muda dapat terjadi bilamana populasi kutu tinggi. Kerusakan yang terjadi antara lain : daun mengeriting, pucuk apikal tumbuh tidak normal (bengkok dan jarak antar ruas daun memendek).

      Gangguan kutu ini akan menghilang pada musim penghujan. Namun demikian kerusakan tanaman muda berupa bentuk-bentuk cacat tetap ada. Hal tersebut tentunya sangat merugikan regenerasi tanaman yang berkualitas.

      Kutu-kutu ini memiliki hubungan simbiosis dengan semut (Formicidae), yaitu semut gramang (Plagiolepis [Anaplolepis] longipes) dan semut hitam (Dolichoderus bituberculatus) yang memindahkan kutu dari satu tanaman ke tanaman lain.

    2. Damar (Agathis spp).

      Hama Kumbang Dari Ulat Gading.

      Gejala :

  • Getah keluar dari bagian batang di luar lubang sadap.
  • Kotoran di sekitar batang maupun di daerah lubang sadap.
  • Kulit kayu kering dan mengelupas.
  1. Durian

    Hama Penggerek Batang dan cabang (Stem borer)

    Ordo : Coleoptera

    famili : Cossidae

    Gejala serangan hama ini adalah terdapatnya kotoran dan cairan berwarna kemerah-merahan dari bekas gerekan (lubang) yang diserang larva. Akibat gerekan larva menyebabkan distribusi hara dan air terganggu. Akibatnya bagian tanaman tersebut menjadi kering, daun-daunnya layu atau rontok dan akhirnya mati.

  2. Pinus

    Hama Kutu Lilin

    Taksonomi hama kutu lilin (Pine Adelgid) adalah sebagai berikut :

    Phylum    : Arthropoda Latreille, 1829 – arthropods

    Klas         : Insekta Linnaeus, 1758 – insects

    Ordo           : Hemiptera

    Famili          : Adelgidae

    Genus          : Pineus

    Species      : boerneri Annand, 1928

    Scientific Name  : Pineus boerneri Annand, 1928

    Dampak Serangan Hama Kutu Lilin Pinus :

  • Ribuan hektar tanaman muda dan produktif telah terserang
  • Ribuan pohon, tanaman muda dan pohon umur produktif hidup merana,  dan sudah banyak yang mati.
  • Akibat serangan pada pohon pinus yang sedemikian luas, maka produksi getah pinus sebagai sumber pendapatan perusahaan dapat terancam kelangsungannya.
  • Hama Kutu Lilin sangat mengancam kelangsungan tegakan pinus di Jawa.
  1. Mahoni

    Hama Penggerek Pucuk Hypsipyla robusta ( shoot borer )

    Merupakan famili Lepidoptera; Pyralida. Pada tingkat larva menyerang tegakan pada tingkat sapling terutama pada umur 3 – 6 tahun dengan tinggi antara 2 – 8 m, pada pohon dengan umur tua jarang dijumpai serangan ini. Dengan daur hidup 1 – 2 bulan, berbagai tingkatan larva dapat sekaligus melakukan penyerangan berulang kali.

    Gejala yang nampak adalah pucuk tiba-tiba menjadi layu, mengering dan lama-lama mati. Jika dipotong bagian batang pucuk yang mati akan dijumpai terdapat larva kumbang (seperti ulat) berada di dalamnya.

    Sampai saat ini belum ditemukan metode yang efektif guna mengatasinya. Pencegahan yang diajurkan antara lain penanaman multikultur (campur) antara mahoni dan akasia mangium (Matsumoto et al, 1997) dan pencampuran dengan Azadirachta indica (mimbo). (Suharti, 1995).

  2. Sengon

    Hama Boktor ( Xystrocea festiva ).

    Hama boktor termasuk dalam ordo Coleoptera. Gejala yang ditimbulkan antara lain :

  • Adanya luka pada batang. Umumnya telur diletakkan pada celah luka di batang. Telur baru ditandai utuh, belum berlubang-lubang; bila telur sudah berlubang-lubang dimungkinkan bahwa telur sudah menetas.
  • Sejak larva keluar dari telur yang baru beberapa saat menetas, larva sudah merasa lapar dan segera melakukan aktivitas penggerekan ke dalam jaringan kulit batang di sekitar lokasi dimana larva berada. Bahan makanan yang disukai larva boktor adalah bagian permukaan kayu gubal (xylem) dan bagian permukaan kulit bagian dalam (floem). Adanya serbuk gerek halus yang menempel pada permukaan kulit batang merupakan petunjuk terjadinya gejala serangan awal.

  1. Eucalyptus

    Hama Pengisap Pucuk dan Ulat Penggerek Pucuk.

    Ada dua kelompok hama, yaitu kelompok hama pencucuk pengisap, dan kelompok hama penggerek pucuk/daun.Kedua hama ini menyebabkan pucuk-pucuk tanaman kayu putih menjadi kering dan daun keriting. Hal ini mengakibatkan  produksi panen daun kayu putih menjadi berkurang.

  • Hama pengisap (ordo Homoptera-Hemiptera) yang mengisap pucuk-pucuk ranting, memiliki ciri-ciri sebagai berikut : warna coklat tua, ukuran panjang ± 1,5 mm, tipe mulut pencucuk pengisap, memiliki sungut/antena panjang, memiliki struktur mirip kornikel panjang di bagian posterior dorsal abdomen, jumlah kaki 3 pasang, tubuh keras. Hama ini menyebabkan pucuk tunas muda layu dan kering. Hama kutu putih/kutu sisik (pseudococcidae = mealybug), yang sering bersimbiosis dengan semut hitam. Bilamana populasi tinggi keberadaan hama ini juga merugikan.
  • ulat penggerek pucuk menyebabkan daun berlubang-lubang, keriting, pucuk kering. Aktivitas ulat penggerek dengan kutu pengisap pucuk menyebabkan turunnya produksi biomassa kayu putih.
  1. Tekinik Pencegahan danPengendalian
    1. Jati

Pengendalian Hama Kutu Putih (Pseudococcus/mealybug).

Pengendalian dilakukan bila populasi kutu per tanaman muda cukup besar. Pengendalian dilakukan dengan penyemprotan pada tanaman-tanaman yang terserang. Langkah-langkah pengendalian hama kutu putih antara lain sebagai berikut

  • Penyemprotan dengan insektisida nabati (pemilihan jenis insektisida kimia sesuai Lampiran 2).
  • Untuk memulihkan bentuk-bentuk yang cacat maka dapat dilakukan pemotongan sampai pada batas atas kuncup ketiak, yang kelak akan menjadi tunas akhir yang lurus dan baik. Kegiatan pemotongan bagian-bagian yang cacat ini hendaknya dilakukan pada awal musim penghujan.

  1. Damar

Pengendalian Hama Kumbang dari Ulat Gading.

  • Cari ulat dan musnahkan apabila terlihat ada gejala.
  • Masukan kawat atau tongkat kayu kecil ke dalam lubang gerek untuk membunuh ulat.
  • Siram lubang gerek dengan air panas.
  • Masukkan kawat yang ujungnya diberi kapas dan pestisida ke dalam lubang gerek.
  • Jika pohon sudah terserang, harus di tebang dan di pindahkan dari kebun.
  1. Durian

    Pengendalian Hama Penggerek Batang dan cabang (Stem borer).

    Insektisida fipronil disemprotkan ke daun dengan konsentrasi 2 ml/l air. Pohon

    ukuran kecil diaplikasi 3,5 liter, pohon ukuran sedang diaplikasi 7 liter, dan pohon yang besar diaplikasi 14 liter. Aplikasi diulang dua kali dengan interval 2 minggu.

  1. Pinus

    Pengendalian Hama Kutu Lilin.

  • Karantina
  • Survei dan Monitoring : cara ini penting dilakukan untuk mengetahui perkembangan (penyebaran dan dampak) serangan hama kutu lilin dari waktu ke waktu secara detail. Dengan demikian maka keputusan langkah pengendalian (kapan dan dimana) dapat diambil secara tepat.
  • Pengendalian secara kimiawi : keuntungannya merupakan cara cepat untuk melindungi pohon; kerugiannya antara lain dapat mematikan parasit dan predator, di samping dampak polusi lingkungan..
  • Manipulasi Silvikultur : penggunaan jenis-jenis spesies alternatif, pemilihan tapak yang tidak cocok bagi hama kutu lilin, penjarangan tegakan yang terserang untuk meningkatkan kesehatan (vigoritas) pohon, penanaman lebih dari satu jenis spesies pada suatu lokasi pertanaman.
  • Pengendalian secara mekanik : melalui penggunaan perangkap dan penyemprotan air volume tinggi ke cabang-cabang. Cara ini tidak menimbulkan efek negatif pada lingkungan, tapi belum teruji untuk hama kutu lilin, juga perlu banyak tenaga pelaksana.
  • Observasi resistensi genetik : pohon resisten (pohon sehat hijau tidak dijumpai adanya serangan kutu lilin, pohon bersih dari kutu lilin) dan juga pohon toleran (kutu lilin menyerang, tapi pohon tetap sehat hijau tidak menunjukkan gejala sakit). Untuk mendapatkan pohon yang benar-benar resisten ataupun toleran, maka observasi kontinyu perlu dilakukan terhadap pohon-pohon kandidat resisten– toleran yang telah dipilih.
  1. Mahoni

    Pengendalian Hama Penggerek Pucuk Hypsipyla robusta.

    Sampai saat ini belum ditemukan metode yang efektif guna mengatasinya. Pencegahan yang diajurkan antara lain penanaman multikultur (campur) antara mahoni dan akasia mangium (Matsumoto et al, 1997) dan pencampuran dengan Azadirachta indica (mimbo). (Suharti, 1995).

  1. Sengon

    Pengendalian Hama Boktor.

  • Pengendalian secara silvikultur dilakukan dengan :
    • Upaya pemuliaan, melalui pemilihan benih/bibit yang berasal dari sengon yang memiliki ketahanan terhadap hama boktor.
    • Penebangan pohon terserang dalam kegiatan penjarangan (Tebangan E).
  • Pengendalian secara manual, antara lain dilakukan dengan :
    • Mencongkel kelompok telur boktor pada permukaan kulit batang sengon,
    • menyeset kulit batang tepat pada titik serangan larva boktor sehingga larva boktor terlepas dari batang dan jatuh ke lantai hutan
  • Pengendalian secara fisik/mekanik, antara lain dilakukan dengan :
    • kegiatan pembelahan batang sengon yang terserang boktor,
    • pembakaran batang terserang boktor sehingga boktor berjatuhan ke tanah,
    • dengan cara pembenaman batang terserang ke dalam tanah.
  • Pengendalian secara biologis, dilakukan dengan :
    • menggunakan peranan musuh alami berupa parasitoid, predator atau patogen yang menyerang hama boktor,
    • caranya dengan membiakkan musuh alami kemudian melepaskannya ke lapangan agar mencari hama boktor untuk diserang, musuh alami ini diharapkan akan mampu berkembang biak sendiri di lapangan.
    • Teknik pengendalian secara biologis yang pernah dicoba antara lain : parasitoid telur boktor (kumbang pengebor kayu Macrocentrus ancylivorus), jamur parasit (Beauveria bassiana),  dan penggunaan predator boktor (kumbang kulit kayu Clinidium sculptilis).
  • Pengendalian secara kimiawi, dilakukan dengan :
    • aplikasi insektisida melalui cara bacok tuang, takik oles, bor suntik maupun semprot;
    • cara kimiawi tersebut ternyata tidak efektif untuk mengendalikan hama boktor.
  • Pengendalian secara terpadu, dilakukan dengan :
    • penggabungan dua atau lebih cara pengendalian guna memperoleh hasil pengendalian yang lebih baik;
    • contohnya pengendalian dengan cara menebang pohon yang terserang, kemudian batang yang terserang tersebut segera dibakar atau dibelah agar tidak menjadi sumber infeksi bagi pohon yang belum terserang.

  1. Pengendalian Hama Pucuk Kayu Putih

    Kegiatan pengendalian dilakukan dengan penyemprotan insektisida, dilakukan bilamana kerusakan sudah mencapai ambang ekonomis. Insektisida yang digunakan adalah insektisida jenis kontak.

  1. Penyakit Hutan
    1. Ciri-Ciri Pohon
      1. Meranti (shorea spp)

        Pohon dapat mencapai tinggi 60 m, bebas cabang 35 m, diameter 1 m. Banir menonjol tetapi tidak terlalu besar. Tajuk lebar, berbentuk payung dengan ciri berwarna coklat kekuning-kuningan. K ulit coklat keabu-abuan, alur dangkal, kayu gubal pucat, dan kayu teras merah tua. Daun lonjong sampai bulat telur, panjang 8 -14 cm, lebar 3,5-4,5 cm. Permukaan daun bagian bawah bersisik seperti krim, tangkai utama urat daun dikelilingi domatia terutama pada pohon muda, sedang urat daun tersier rapat seperti tangga. Bunga kecil dengan mahkota kuning pucat, helai mahkota sempit dan melengkung ke dalam seperti tangan menggenggam. Deskripsi buah dan benih. Buah seperti kacang yang terbungkus kelopak bunga yang membesar. Kelopak ini berbulu jarang dengan 3 cuping memanjang sampai 10 cm dan melebar 2 cm berbentuk sendok, 2 cuping lainnya berukuran panjang 5,5 cm dan lebar 0,3 cm. Panjang benih 2 cm, diameter 1,3 cm, bulat telur, berbulu halus dan lancip dibagian ujungnya. Unit penaburan dan pengujian adalah buah dimana bagian bawah kelopak disisakan setelah sayap dipotong. 1 kg terdapat 1300-2100 butir benih tanpa sayap.

      2. Kayu Putih (Melaleuca leucadendron)

        Dapat ditemukan dari dataran rendah sampai 400 m dpi, memiliki struktur pohon yang tinggi dengan ukuran 10-30 m, kulit batangnya berlapis-lapis, berwarna putih keabu-abuan dengan permukaan kulit berwarna putih yang terkelupas tidak beraturan. Tanaman ini berakar serabut, daunnya tunggal, lancip, helaian berbentuk jorong atau lanset, strukturnya agak tebal seperti kulit, bertangkai pendek, letak berseling, panjangnya 4,5-15 cm, lebar 0,75-4 cm, ujung dan pangkalnya runcing atau agak bulat, tepi rata, tulang daun sejajar berbentuk tombak. Permukaan daunnya berambut, berwarna hijau kelabu sampai hijau kecoklatan. Bila daun diremas atau dimemarkan akan berbau minyak kayu putih. Daunnya mengandung 0,7 % minyak kayu putih. Bunganya merupakan bunga majemuk, berwarna putih, bunga berbentuk seperti lonceng, berambut atau tidak berambut. Kelopak bunga berbentuk mangkok dengan panjang 1,5-2,5 mm, mahkota bunga berbentuk bulat telur dengan panjang 2-3 mm, berkelenjar minyak berwarna kuning. Daun mahkotanya berwarna putih, dan kepala putik berwarna putih kekuningan. Buahnya berbentuk seperti lonceng dengan panjang 2,5-3 mm, lebar 3-4 mm, warnanya coklat muda sampai coklat tua. Bijinya halus, sangat ringan seperti sekam yang biasa disebut sari bolong berbentuk seperti biji, berwarna kuning.

    2. Gejala atau Tanda Serangan
      1. Jati

        Penyakit Mati Pucuk (Die Back) oleh jamur Phoma sp.

        Gejalanya yaitu pucuk utama tanaman jati (terutama pada musim penghujan) kadangkala gagal untuk tumbuh dan bersemi. Pada pucuk tersebut lapisan jamur berwarna hitam disertai kerusakan fisik akibat serangga bertipe alat mulut penggeek pengisap. Jaringan pucuk yang diserang serangga ini menjadi kering, rapuh dan busuk (terlihat pada musim kemarau). Pucuk tanaman jati yang lain dari tanaman yang diserang tetap dapat bersemi dan berkembang secara normal, namun pertumbuhan tanaman jati tersebut tidak lurus. Akibat serangan mati pucuk, pertambahan tanaman menjadi tidak lurus dan kualitas pertumbuhannya pun menurun.

      2. Pinus

        Penyakit Kanker Batang oleh jamur Diplodia pinea.

        Infeksi awal kanker batang biasanya terjadi pada batang yang masih hijau, terutama pada pangkal percabangan dekat daun jarum. Infeksi patogen menyebabkan bercak-bercak pada batang yang bentuknya tidak teratur yang mengluarkan eksudat berupa resin. Daun-daun jarum yang berdekatan dengan lokasi infeksi terlihat menguning dan akhirnya kering (berwarna cokelat). Pada pohon yang telah dewasa, infeksi biasanya dimuali disekeliling kerucut tajuk, kemudian berkembang beberapa meter ke atas dan mencapai cabang. Infeksi disekeliling cabang biasanya menghasilkan kanker yang cukup besar.

      1. Sengon

        Penyakit Akar Merah oleh jamur Ganoderma pseudoffereum.

        Gejalanya dapat dilihat pada tajuk atau pada akar. Penyakit akar merah yang menyerang tajuk mengakibatkan daun-daun yang menguning, kering, dan akhirnya rontok. Sedangkan penyakit akar merah yang menyerang akar terlihat adanya selaput miselium berwarna merah bata dilekati oleh butir-butir tanah. Miselium yang baru saja tumbuh umumnya berwarna putih, krem dan merah yang khas hanya terjadi bila miselium menjadi tua. Pada tingkatan serangan lebih, jamur membentuk badan buah (basidiokarp) pada pangkal batang, bahkan dapat pula merabat sampai ke bagian atas batang pohon.

      2. Ampupu

        Penyakit Tumor Batang oleh Nectria sp. dan Cytospora sp.

        Gejala serangan penyakit tumor batang berupa luka atau kematian (nekrotik) pada kulit batang yang terjadi secara lokal. Jaringan yang masih hidup yang terdapat di pinggir kanker akan menebal sehingga seakan-akan bagian yang sakit tenggelam dan terletak lebih rendah daripada bagian di sekelilingnya, gejala serangan lebih lanjut adalah terjadinya pembengkakan batang sehingga kulit batang pecah-pecah arah membujur. Demikian pula bagian kambiumnya dan bagian kayunya ikut pecah. Tumor batang sering berasal dari luka pada kulit batang atau mulai pada bekas patahan cabang yang mati yang kemudian menyebar kesekelilingnya. Pohon dapat hidup terus dan menahan meluasnya kanker dengan jalan membentuk kalus di sekitar kanker. Tetapi bila kanker berkembang lebih cepat dari pada pembentukan jaringan pertahanan, maka tidak akan ada kalus yang terbentuk hingga kanker akna meluas dengan cepat dan menyerang kalus yang baru terbentuk.

  1. Akasia
    1. Penyakit Busuk Hati (Heart Rot) oleh jamur Phellinus sp. dan P. Npxius.

      Gejala serangan penyakit ini dapat dibagi dalam enam tingakatan, yaitu busuk kantung (pocket rot), dimana pada potongan melintang batang terlihat kayu teras yang berwarna merah jambu (pink) seperti bunga karang yang terlihat di dalam kantung. Kedua yaitu busuk balok (blocky rot), bagian dalam kayu berwarna cokelat pucak samapai putih, jaringan kayu mudah runtuh, dan pecah apabila dipotong dengan pisau. Ketiga yaitu busuk serabut (stringy rot), bagian dalam kayu berwarna putih pucat, kuning sampai putih, berserat, dan pecah sepanjang tepinya. Keempat yaitu busuk bunga karang (spongy rot), dimana bagian hati kayu berwarna kunging sampai putih, berbentuk bunga karang, kering, da pecah menjadi serpihan-serpihan kecil. Kelima yaitu busuk berair (wateru rot), bagian hati kayu berwarna cokelat sangat basah, berserat seperti spon dan berbau busuk. Keenam yaitu hollow (kosong), dimana terdapat lubang-ubang kosong dengan tanda pembususkan. Gejala tingakt empat samai dengan 6 merupakan stadium lanjut dari penyakit busuk hati. Gejala akan berkembang, sejalan dengan bertambahnya umur tanaman.

  1. Penyakit Busuk Kulit oleh jamur Pythophtora palmivora.

Gejala penyakit busuk kulit berupa cairan berwarna hitam yang berbau busuk pada kulit batang. Cairan ini menjadi kering pada musim kemarau dan menjadi basah berlendiri pada musim penghujan. Kulit batang yang sehat dan yang terkena cairan hitam memiliki batas yang jelas. Batas tersebut semula tebal karena adanya cairan hitam yang mengendap (susut) dan menjadi lunka. Bila kulit yang berwarna hitam dikupas, warna kayunya lebih gelap dibandingkan denganwarna kayu dibawah kayu yang sehat. Kulit kayu yang terserang berat akan berwarna cokelat merah baunya menjadi lebih tajam (bau khas legum hilang). Cairan hitam menyebar atau bahkan menyelimuti batang dan berkembang ke bawah mulai dari pangkal penyebaran, baikpada batang ganda (multi stem) maupun batang tunggal (single stem).

  1. Kayu Putih

    Penyakit Kutil Daun oleh Eriophyoes sp.

    Gejala serangan yaitu dengan terbentuknya kutil berwarna kunign muda pada permukaan atas daun. Kutil daun tersebut berkembang membentuk kutil berukuran besar. Perkembangan kutil daun dapat terjadi secara sendiri atau mengelompok menjadi satu. Kutil pada daun yang telah tua relatif tidak mengganggu, namun pada daun yang masih muda dan belum berkembang sempurna dapat menggangu pertumbuhan daun. Serangan penyakit kutil daun dapat megakibatkan sel-sel daun mengalami degenerasi bahkan kerusakan.

  1. Meranti

    Penyakit Kerdil (Mikoplasma) oleh Cicadelidae atau Jassidae.

Gejala serangan berupa prolepsis, yaitu munculnya kallus yang menumpuk mirip bola-bola kecil yang bergerombol pada batang, terutama di ketiak cabang. Gejala ini dapat berkembang sangat intensif dan pada kallus yang masih segar sering tumbuh daun berwarna hijau muda, kecil dan kaku. Gejala ini banyak terjadi pada tanaman yang berasal dari cabutan alam, sedangkan tanaman yang berasal dari stek pucuk jarang menunjukkan gejala tersebut. Gejala ini dapat mengakibatkan pertuubuhan tanaman menjadi terhambat dan tidak dapat tumbuh normal meskipun umurnya telah mencapai beberapa tahun.

  1. Teknik Pencegahan dan Pengendalian
    1. Penyakit Mati Pucuk (Die Back) oleh jamur Phoma sp. Pada Jati

      Gejala mati pucuk terlihat jelas pada musim hujan, maka pada awal musim hujan pucuk-pucuk yang menunjukkan gejala serangan penyakit harus dipotong untuk menghilangkan sumber inokulum disertai dengan pemupukkan untuk memacu pertumbuhan tanaman.

      Pada musim hujan perlu dilakukan pemangkasan terhadap tanaman pelindung untuk mengurang kelembapan, sedangkan pada musim kemarau, pemangkasan terhadap tanaman pelindung tidak perlu dilakukan atau hanya dilakukan pemangkasan ringan saja agar kelembapan lingkungan tetap terjamin. Tanaman jati yang menunjukkan gejala mati pucuk harus diberi tanda dan diprioritaskan untuk ditebang pada saat penjarangan tanaman.

    2. Penyakit Kanker Batang oleh jamur Diplodia pinea pada Pinus

      Melakukan monitoring sambil melakukan pekerjaan thinning atau pemangkasan tajuk secara teratur, terutama tajuk-tajuk yang kering dan menunjukkan gejala penyakit kanker batang untk menghilangkan dan mengurangi jumlah inokulum. Pohon-pohon pinus yang menunjukkan gejala terserang penyakit kanker batang harus segera diberi pupuk untuk meningkatkan kesehatan tanaman.

    3. Penyakit Akar Merah oleh jamur Ganoderma pseudoffereum Pada Sengon.

    Hal yang lebih khusus pada tanaman sengon yaitu kecenderungan timbulnya jamur akar merah pada tanaman tua di atas umur 7 tahun. Oleh karena itu, untuk menghindarkan tanaman dari kerusakan yang lebih parah sebaiknya dilakukan pemanenan (penebangan) segera setelah pohon masuk tebang.

    1. Penyakit Tumor Batang oleh Nectria sp. dan Cytospora sp Pada Ampupu.

    Sebelum penanaman perlu dilakukan kajian kecocokan lahan dan jenis yang akan ditanaman. Jarak tanaman harus dibuat sedemikian rupa sehingga kelembapan pertanaman tidak tinggi. Perawatan monitoring yang terus-menerus perlu dilakukan, terutama di daerah yang rawan terhadap penyakit kanker. Apabila dalam satu lokasi telah ditemukan beberapa pohon yang menunjukan gejala kanker batang, hendaknya pohon-pohon tersebut segera ditebang dan disingkirkan untuk mencegah meluasnya penyakit. Apabila dalam satu rotasi tanam telah ditemukan banyak pohon yang menderita kanker batang, maka pada rotasi berikutnya hendaknya tidak dilakukan penanaman dengan jenis tersebut.

    1. Akasia
      1. Penyakit Busuk Hati (Heart Rot) oleh jamur Phellinus sp. dan P. Npxius.

      Pemilihan jenis yang sesuai dengan tempat tumbuh (site) merupakan faktor yang sangat penting untuk mencegah terjadinya penyakit busuk hati secara meluas. Seleksi benih dari induk yang berkualitas dan berpenampilan bagus (pohon plus) dapat mengurangi terjadinya serangan penyakit busuk hati. Apabila dalam suatu areal telah terjadi epidemi penyakit busuk hati, maka rotasi harus diganti dengan jenis lain yang tahan terhadap serangan jamur.

      1. Penyakit Busuk Kulit oleh jamur Pythophtora palmivora Pada Akasia.

      Karena penyakit sangat didukung oleh kondisi yang lembab dan gelap serta adanya pelukaan dan percabangan, maka salah satu cara pengendaliannya adalah dengan pemangkasan cabang (pruning) untuk memberikan suasana terang dan mengurangi kelembapan pada area pertanaman. Pemakaian fungisida untuk melumas kulit tidak dianjurkan karena tingkat efektifitasnya masih diragukan dan secara ekonomis mahal.

    2. Penyakit Kutil Daun oleh Eriophyoes sp. Pada Kayu Putih
  • Melakukan sanitasi dan eradikasi bersmaan dengan waktu pemangkasan tanaman.
  • Melakukan monitoring secara cermat agar intensitas eranga tetap dibawah ambang ekonomi.
  • Menggunakan bibit tanaman kayu putih yang relaif tahan terhadap penyakit kutil daun sehingga serangan tungau tidak mengakibatkan berkurangnya jumlah dan kualitas minyak kayu putih yang dihasilkan.
  1. Penyakit Kerdil (Mikoplasma) oleh Cicadelidae atau Jassidae pada Meranti.
  • Infeksi mikoplasma diduga sudah terjadi sejak anakan tanaman masih berada di alam. Oleh karena itu anakan tanaman perlu diseleksi untuk mengurangi terjadinya penyakit.
  • Semai yanga berasal dari pembiakan vegetatif jarang terserang mikroplasma, maka perlu dikembangkan tanaman yang berasal dari pembiakan vegetatif, misalnya stek pucuk, untuk menghindarkan tanaman dari infeksi mikroplasma.
  • Pengendalian serangga (vektor) mikroplasma dapat menggunakan pestisida (terutama dipersemaian) dan pengendalian biologinya perlu dicarikan musuh alaminya di lapangan.
  • Untuk menjamin kualitas tanaman yang berasal dari cabutan alam, perlu dicari pohon induk yang berkualitas (pohon plus), baik dari segi penampilan maupun kesehatannya.
  • Indakan sanitasi dan eradikasi perlu dilakukan untuk mengurangi sumber inokulum dan populasi serangga vektor yang di lapangan.


4 Responses to "Jenis-jenis Hama Dan Penyakit Yang Menyerang Tanaman Kehutanan"

terima kasih….
infonya sgt lngkp

Ur welcome :)

Dear Fitri (I dont know this is your true name or may only plagiat name),

I am very sorry wrote this massage to you,

I am very dissapointed know your habit and behaviour, you reproduced some foto from my original publishing book without mentioned the autority of those figure.

Do you know that those are criminal ? If you dont add or mentioned the autority of those figure soon, I will call you in the court.

Be aware and dont thinks that this is a joke. I am serious

Dr. Sri Rahayu (Forest Pathologist), Lecturer in the Fac. Of Forestry Gadjah Mada University.

Sorry,, Message anda baru saya balas..
Sumber filenya memang dari internet juga..
Insya Allah akan saya @ pada daftar pustakanya, biar gak disbt tindak kriminal..
Makasih yaah commentnya :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 16,508 hits
June 2009
M T W T F S S
     
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Archives

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: